Me, Myself & Irene

work hard, travel even harder

Menu Close

Every Ending Has A New Beginning

Goodbyes are not forever. Goodbyes are not the end. They simply mean I’ll miss you until we meet again.

Itu adalah status Facebook kakak saya setelah melepas saya pergi ke Australia, 3 tahun lalu. Lebay? Iya! Pertama kalinya saya solo traveling ke negara asing untuk waktu yang gak sebentar.

Masih ingat waktu kasi tau mama kalo saya mau ke Australia pake WHV  (Work and Holiday Visa).

Mama (M) : Nanti mau kerja apa?

Saya (S) : (Karena denger cerita orang, kerja cuci piring dibayar $$) Cuci piring di restoran.

M : Ya udah cuci piring sana. Latihan dulu di rumah sebelum ke Australia.

S : Iya entar.. (Trus pura-pura ngerjain yg lain trus lupa. Oke, saya akui saya memang paling males cuci piring).

Masih ingat waktu minta resign ke bos.

Bos (B) : Kamu mau ngapain ke Australia?

Saya (S) : Kerja pak, bareng temen. (Waktu itu WHV memang belum se-populer sekarang, jadi belum banyak orang yang tau dan percaya ada visa ini).

B : Irene.. Irene.. Daripada ke sana belum jelas, mending kamu di sini aja. Beli aset, settle, dll.

Masih ingat waktu cerita ke temen mau ke Australia.

Temen (T) : Udah dapet kerja di sana, Ren?

Saya (S) : Belum. Nanti baru nyari pas sampe sana.

Nekat. Berani. Gila. You named it. Buat saya yang masih jomblo (#uhuk) dan belum punya tanggungan apa-apa, saya berani mengambil resiko. Kenapa? Because You Only Live Once, so you have to make the most of it. Kalo gak sekarang, kapan lagi? Prinsip saya ‘Lebih baik pernah mencoba dan gagal, daripada gak pernah mencoba sama sekali’. Penyesalannya bisa sampe 7 turunan 8 tanjakan. Capek :p

Awalnya saya sama sekali gak ada bayangan tentang WHV. Apa saya akan sukses atau enggak. Apa saya akan bahagia atau enggak. Apa saya akan ketemu jodoh (#ehem) atau enggak. Cuma Tuhan yang tau. Tapi setelah beberapa bulan tinggal di Australia, I can tell that it (going to Australia with WHV) was the best decision I’d ever made.

Satu tahun hidup di Australia bikin saya banyak belajar. Belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur sendiri dan cari obat sendiri kalo sakit. Belajar untuk menerima kalo sesuatu gak berjalan sesuai dengan maunya kita. Belajar untuk lebih menghargai waktu (maklum aja, kerjanya dibayar per jam). Dan yang pasti belajar menyatakan pendapat secara tegas. Kalo mau, bilang mau. Kalo gak, bilang enggak. Bukan ‘terserah’ atau ‘boleh juga’.

Sejak berakhirnya masa WHV saya pada bulan April 2015, yang tersisa adalah perasaan susah move on (penyakit yang melanda sebagian besar alumni pemegang WHV, hihi). Gimana enggak? Gaji seminggu di Australia setara dengan gaji sebulan di Indonesia. Memang biaya hidup di Australia lebih tinggi, tapi income dan expense sebanding, jadi masih bisa saving. Belum lagi fasilitas umum yang memadai seperti taman dan perpustakaan. Transportasi umum yang terawat dan terjadwal. Serta segudang keteraturan atau kenyamanan lainnya. Eh tapi bukan berarti saya gak cinta Indonesia yah. Saya tetep kangen kok nyetop bus / metromini di mana aja dan kapan aja, manggil tukang siomay / tukang bakso / tukang nasi goreng yang lewat depan rumah kalo lagi males masak atau pake jasa ojek payung yang stand by di halte / stasiun / luar pusat perbelanjaan pas ujan. Yang pasti saya kangen makanan Indonesia dengan harga Rupiah, hehehe. Nasi padang, bubur ayam, siomay, pempek, gorengan pake plastik, bakwan malang, bihun bakso, es podeng, kue cubit dan lain-lain.

Never let a memory become stronger than a dream

Saya suka Australia dan akan nyari cara buat dapet visa legal untuk tinggal di sana. Setelah bertapa selama enam bulan, saya kembali bekerja sebagai Accounting Staff di Jakarta. Itung-itung buat ngisi waktu luang dan tabungan serta nyusun strategi buat mencapai mimpi berikutnya.


Beda orang, beda pengalaman. Baca juga ceritanya kakak-kakak keceh ini yah..

Hilal Abu Dzar – Dadah Australia dan Selamat Datang Babak Berikutnya

Bernadeta Virgi – 6 months and ongoing

Vania Stephanie Hosen – #Australia365Days

Felita Moria – WHV Story: See You When I See You, Straya!

Rhein Fathia – One Year Later

Efi Yanuar – Setelah WHV Mau Apa?

Made Cahyana – Mooramanna, Awal dan Akhir

Aldino Tanza – Setahun Penuh Di Tanah Australia

© 2017 Me, Myself & Irene. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.