Me, Myself & Irene

work hard, travel even harder

Menu Close

Mengurus SKCK Online

SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) atau Police Record adalah surat yang menyatakan apakah seseorang memiliki catatan kejahatan atau tidak. SKCK dulunya dikenal dengan SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik). Umumnya SKCK diperlukan sebagai persyaratan untuk mendaftar CPNS, tapi terkadang diperlukan juga sebagai persyaratan visa untuk tinggal di negara tertentu dalam jangka panjang.

Tergantung tujuan penggunaannya, surat ini dapat diurus di kantor polisi mulai dari tingkat Polsek, Polres, Polda Metro Jaya atau Mabes Polri. Khusus untuk urusan luar negeri, SKCK yang diperlukan adalah yang dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya atau Mabes Polri. Saya sempat googling bagaimana cara mengurus SKCK dan menemukan bahwa sekarang bisa diurus online. Informasinya dapat dilihat di sini

Dokumen yang dipersyaratkan untuk permohonan SKCK secara online adalah sebagai berikut :

  1. Pemohon Warga Negara Indonesia (WNI):
  • Copy Scan KTP asli;
  • Copy Scan Kartu Keluarga (KK) asli;
  • Copy Scan Akte Kenal Lahir asli;
  • Copy Scan identitas lain bagi pemohon yang belum memenuhi syarat memperoleh KTP;
  • Copy Scan foto diri ukuran 4 x 6 berwarna latar belakang merah, berpakaian sopan, tampak muka. Bagi pemohon yang mengenakan jilbab harus tampak muka;
  • Copy Scan Paspor bagi WNI yang akan keluar negeri dalam rangka sekolah/kunjungan/penerbitan VISA;
  1. Pemohon Warga Negara Asing (WNA):
  • Copy Scan Surat permohonan (asli) sponsor, perusahaan, lembaga yang mempekerjakan, menggunakan atau yang bertanggung jawab terhadap WNA;
  • Copy Scan Paspor asli;
  • Copy Scan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) asli atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) asli;
  • Copy Scan foto diri ukuran 4 x 6 berwarna latar belakang kuning, berpakaian sopan, tampak muka. Bagi pemohon yang mengenakan jilbab harus tampak muka;
  • Copy Scan Surat Nikah asli dan KTP asli suami/istri bagi WNA yang mendapat sponsor dari WNI.

Pada saat pengambilan SKCK di loket pelayanan, pemohon WAJIB menunjukkan dokumen asli yang dipersyaratkan di atas kepada petugas loket guna keperluan verifikasi.

Ketentuan pengambilan SKCK :

  • Pemohon SKCK yang melakukan registrasi online sebelum pukul 08:00 waktu setempat dapat mengambil SKCK di loket pelayanan sampai dengan pukul 14:00 pada hari yang sama dengan membawa dan menunjukkan kode registrasi serta dokumen yang dipersyaratkan kepada petugas loket pelayanan;
  • Pemohon SKCK yang telah melakukan registrasi online diberikan kesempatan untuk mengambil SKCK paling lama 3 (tiga) hari kerja. Bila melebihi waktu tersebut, sistem akan otomatis menghapus data pemohon dan pemohon harus melakukan registrasi ulang.

Berikut pengalaman saya mengurus SKCK secara online.

12 Mei 2015

Saya melakukan pendaftaran melalui website yang diberikan dan memilih pengambilan di Mabes Polri. Setelah selesai mengisi formulir, saya mendapat kode registrasi. Kode registrasi ini harus langsung dicetak karena tidak ada pilihan untuk disimpan. Saya mengakalinya dengan menggunakan program Snipping Tool yang tersedia di Windows bagianΒ accessories. Dengan Snipping Tool yang ber-icon gunting, kita tinggal meng-crop gambar yang diinginkan kemudian disimpan dalam bentuk image dengan format HTML, PNG, GIF atau JPEG. Saya mengirimkan keΒ e-mail agar dapat dicetak kemudian. Kode registrasi ini harus dicetak karena akan ditunjukkan pada saat verifikasi data dan pengambilan surat.

13 Mei 2015

Mabes Polri berlokasi di Jl. Trunojoyo No. 3, Jakarta Selatan. Saya berangkat jam 08.30 menggunakan Kopaja nomor 19 jurusan Tanah Abang – Blok M dan memberitahu kondektur bus kalau saya mau turun di Mabes. Transportasi lain yang dapat digunakan adalah bus Transjakarta jurusan Blok M (karena letaknya di antara Masjid Agung dan Blok M, bisa turun di salah satu halte ini kemudian berjalan kaki sekitar 5 menit) atau bus apapun jurusan Blok M.

Saya bertanya kepada salah satu petugas di pos satpam Mabes Polri mengenai loket untuk mengurus SKCK. Gedung yang dituju adalah gedung Pelayanan Masyarakat. Dari pintu masuk gedung, ruang yang dituju ada di sebelah kanan. Saya tiba jam 09.30 dan mengambil nomor antrian 3. Ada tiga loket di mana dua di antaranya ada petugas yang menjaga. Saya pikir ketiga loket tersebut bisa untuk mengurus SKCK tapi ternyata hanya loket tengah yang bisa dan ternyata (lagi) di loket yang tidak ada penjaganya. Ya sudah saya kembali duduk sambil melihat-lihat pengumuman yang ditempel di kaca loket, antara lain informasi pelayanan SKCK, biaya tarif SKCK dan persyaratan untuk SKCK.

Tepat jam 10.00 petugasnya datang dan memanggil nomor urut 3. Saya maju ke loket dan mengatakan mau mengambil SKCK yang sudah saya daftarkan secara online semalam. Dia mengecek komputernya dan mendapatkan data saya. Saya menyerahkan kode registrasi dan semua persyaratan.

Petugas (P) : Mbak sudah pernah mengambil sidik jari?

Saya (S) : Belum.

P : Berarti mbak harus mengambil sidik jari dulu di Gedung INAFIS. (Sambil menjelaskan di mana letak gedung itu)

S : Bisa selesai dalam satu hari, pak?

P : Bisa.

Saya beranjak pergi dan mencari gedung yang dimaksud. Dengan hasil bertanya kepada petugas di empat pos satpam berbeda, saya sampai di gedung INAFIS yang terletak di sebrang. Ruang pengambilan sidik jari terlihat sepi. Dari sekitar 15 meja dan kursi yang ada, hanya dua yang ditempati pada saat itu. Kemana pegawai yang lain? Saya tidak tahu. Mungkin ada benarnya, apa yang dikatakan orang-orang tentang pegawai negeri. Ironisnya, pegawai yang akan mengambil sidik jari saya baru datang dua menit kemudian setelah ditelepon oleh salah seorang dari dua pegawai yang ada. Saya mengisi kartu identitas diri yang diberikan, lalu ke-10 jari saya diberi tinta stempel untuk dicetak sidik jarinya. Kartu ini kemudian disimpan oleh pihak kepolisian sebagai arsip dan saya mendapat kartu kecil sebagai tanda terima bahwa sidik jari kita sudah pernah diambil. Saya memfotokopi kartu itu dan memberikannya kepada petugas di loket SKCK, sementara aslinya saya simpan untuk keperluan berikut. Setelah lengkap semua, dibilang kalau prosesnya maksimal dua jam.

Dua jam kemudian (jam 13.00) saya kembali ke ruangan. Tidak sampai lima menit, nama saya dipanggil. SKCK saya sudah jadi dan hanya perlu membayar Rp 10.000.


Info lain :

  • SKCK diterbitkan dalam 2 bahasa (bahasa Indonesia & bahasa Inggris) dan berlaku 6 bulan sejak tanggal dikeluarkan.
  • SKCK juga dapat diurus secara manual dengan mendaftar langsung di loket pelayanan SKCK yang berada di kantor Polsek/Polres/Polda/Markas Besar dengan membawa dokumen yang dipersyaratkan serta mengisi formulir yang telah disiapkan oleh petugas (terkadang diperlukan surat pengantar dr RT, RW & kelurahan).

© 2017 Me, Myself & Irene. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.