Me, Myself & Irene

work hard, travel even harder

Menu Close

Tag: dokumen

Mengurus BPJS Kesehatan secara manual

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa.

BPJS Kesehatan sebelumnya bernama Askes (Asuransi Kesehatan), yang dikelola oleh PT Askes Indonesia (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Askes Indonesia berubah menjadi BPJS Kesehatan sejak tanggal 1 Januari 2014.

(Diambil dari Wikipedia)

Saya termasuk orang yang jarang sakit, jadi tidak punya asuransi kesehatan. Sampai suatu hari teman saya cerita kalo papanya dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu. Beliau tidak perlu membayar sedikitpun alias gratis karena biaya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS. Saya menjadi skeptis, mengingat cerita teman saya yang lain yang menggunakan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dan dipersulit ketika akan mendaftar di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Namun kata teman saya, pada kejadian papanya tidak dipersulit. Okelah saya tertarik untuk mendaftar juga. Namanya sakit atau musibah, tidak ada yang tahu. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.

Pendaftaran BPJS bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1. Secara online melalui website BPJS.

2. Secara manual dengan datang ke salah satu kantor BPJS yang ada di daftar ini.

Mendengar cerita teman-teman kalo bikin BPJS secara manual itu ribet, saya putuskan untuk mendaftar secara online. Begitu memasukkan nomor kartu keluarga, tertulis bahwa ada anggota keluarga saya yang sudah terdaftar jadi saya harus membuat secara manual. Ibu saya sudah mendaftar secara online beberapa bulan lalu dan kakak saya sudah didaftarkan oleh kantornya.


Berikut pengalaman saya mengurus BPJS Kesehatan secara manual.

8 Juli 2015

Saya menelpon Pusat Layanan Informasi di nomor 1500400. Petugas di ujung telpon memberitahu persyaratan yang harus dibawa, yaitu : fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi halaman depan buku tabungan yang berisi nama dan nomor rekening dan 2 lembar foto ukuran 3×4. Saat saya tanya berapa lama prosesnya, dia mengatakan “Sebaiknya ibu datang lebih awal sebelum kantor beroperasi, untuk mendapat nomor awal.” Alamaaak!

10 Juli 2015

Jam 6 pagi saya sudah tiba di kantor BPJS Jakarta Pusat yang berlokasi di Jl. Proklamasi No. 94 A Pegangsaan, Menteng. Kantor memang belum dibuka, tapi sudah ada tiga orang bapak-bapak sedang ngobrol. Entah sudah berapa lama mereka di sana. Ada dua antrian di sebelah kiri dan kanan : kiri untuk pendaftaran perusahaan dan kanan untuk pendaftaran perorangan. Saya menaruh map berisi berkas persyaratan di sebuah nampan yang tersedia kemudian duduk menunggu. Orang-orang mulai berdatangan.

Jam 6.30 satpam mulai membuat batas antrian yang langsung diisi oleh para bapak dan yang lainnya.

Tepat jam 7, meja registrasi dibuka. Petugas memanggil satu persatu. Saya diminta mengisi formulir terlebih dahulu sebelum mendapat nomor antrian. Kita wajib mengisi fasilitas kesehatan (bisa dilihat di sini) dan kelas perawatan yang dipilih (berhubungan dengan iuran yang dibayarkan setiap bulannya). Setelah mendapat nomor antrian, saya melangkah masuk ke dalam untuk menunggu di loket.

Nomor Virtual Account

Nomor Virtual Account

Karena bulan puasa, loket dibuka jam 7.30. Nomor urut saya dipanggil paling pertama dan dalam waktu 15 menit saya mendapat nomor Virtual Account. Nomor Virtual Account setiap orang akan berbeda karena ini merupakan nomor rekening BPJS pribadi kita. Setiap bulan kita wajib membayar iuran dengan cara setor atau transfer ke rekening tersebut sebelum tanggal 10. Jika lewat dari tanggal tersebut, akan dikenakan denda. Kita baru bisa membayar dua minggu kemudian.

 25 Juli 2015

Pembayaran dapat dilakukan melalui tiga bank pilihan yaitu BNI, BRI dan Bank Mandiri. Bukti pembayaran disimpan untuk ditunjukkan pada saat pengambilan kartu.

7 Agustus 2015

Kartu BPJS

Kartu BPJS

Saya datang ke kantor BPJS dengan membawa Nomor Virtual Account dan bukti pembayaran. Sistem sempat offline sehingga saya harus menunggu selama 30 menit sebelum akhirnya mendapatkan kartu BPJS.


Info lain :

  • Tidak dipungut biaya untuk mendaftar BPJS Kesehatan.
  • Program BPJS berlangsung seumur hidup, dengan kata lain tidak bisa berhenti atau terputus.

Perpanjangan Paspor di Australia

Sebelum berangkat ke Australia untuk menjalani program Work and Holiday selama satu tahun, saya berpikir “Bisa perpanjang paspor di sana tidak yah?”. Paspor saya berlaku sampai bulan Januari 2015, sedangkan saya berangkat pada bulan April 2014. Jawabannya : “BISA,” setelah saya mengirimkan email ke kantor imigrasi Australia. Ya, untuk Warga Negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dalam jangka waktu lama bisa memperpanjang paspor di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

Di Australia ada satu KBRI, tiga KJRI dan satu KRI (Konsulat Republik Indonesia).

  • KBRI di Canberra hanya menangani state Australia Capital Territory (ACT). Informasi bisa dilihat di http://www.kbri-canberra.org.au
  • Tiga KJRI masing-masing berlokasi di :
  1. Perth (menangani state Western Australia). Informasi bisa dilihat di http://www.kjri-perth.org.au
  2. Melbourne (menangani state Victoria dan Tasmania). Informasi bisa dilihat di http://www.kemlu.go.id/melbourne
  3. Sydney (menangani state New South Wales, Queensland dan South Australia). Informasi bisa dilihat di http://www.kemlu.go.id/sydney

Persyaratan :

  1. Mengisi formulir permohonan paspor yang tersedia di Counter Layanan Keimigrasian atau di website.
  2. Melampirkan :
  • Paspor RI/SPRI lama (dengan masa berlaku kurang dari 6 bln).
  • Photo copy Akte Kelahiran, Akte Pernikahan, Ijazah yang tercantum nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, atau Surat Baptis yang tercantum nama lengkap, tempat dan tanggal lahir (pilih salah satu. Apabila surat tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah di luar Negara Indonesia maka wajib dilegalisasi). Catatan : Akte kelahiran /pernikahan/Ijazah/Surat Baptis bukan yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, harus yang berbahasa Indonesia.
  • Bukti ijin tinggal (visa yang masih berlaku minimal 2 tahun atau VEVO – Visa Entitlement Verification Online  telepon di 1800 040 070).
  • Bukti domisili yang masih berlaku (pilih satu SIM, bank statement, atau rekening listrik, rekening koran, rekening telepon).
  • Pas Photo untuk paspor terbaru berwarna latar belakang putih dan tidak menggunakan kacamata ukuran 3×4 cm  sebanyak 2 lembar (foto terbaru 3 bulan terakhir).
  • Membayar biaya permohonan sebesar A$ 40,-

Catatan:

  1. Pembayaran biaya jasa di atas hanya dengan menggunakan sistem pembayaran EFTPOS (credit card & ATM), company cheque, bank cheque, money order dan tidak melayani pembayaran dalam bentuk cash atau personal cheque.
  2. Pembuatan paspor RI baru dapat pula menggunakan jasa pos / kurir bagi WNI yang tinggal di luar kota lokasi KJRI namun mengikuti state yang dibawahinya, dengan menyertakan persyaratan lainnya termasuk paspor lama serta amplop balasan (Registered Post) dan pembayaran berupa money order.
  3. Proses pembuatan paspor selama 5 (lima) hari kerja terhitung saat diterimanya dokumen tersebut dan tidak termasuk proses pengiriman dan pengembalian kembali kepada pemiliknya.

Berikut pengalaman saya mengurus perpanjangan paspor di KJRI Melbourne.

6 Agustus 2014

Saya mengisi formulir yang bisa di-download di sini atau diambil di counter Layanan Imigrasi. Formulir tersebut saya bawa bersama dokumen yang disyaratkan, ke kantor KJRI Melbourne yang berlokasi di 72 Queens Road. Kita wajib meninggalkan kartu identitas ketika memasuki KJRI. Saya mengambil nomor antrian lalu duduk di ruang tunggu. Tersedia mesin fotokopi jika lupa membuat salinan dari dokumen yang diperlukan dan tidak dipungut biaya alias gratis.

10 menit kemudian tiba giliran saya. Saya maju ke loket dan menyerahkan semua dokumen. Setelah petugas memeriksa kelengkapannya, saya melakukan pembayaran dengan EFTPOS. Saya diberikan tanda terima yang harus dibawa pada saat pengambilan paspor.

13 Agustus 2014

Saya kembali mendatangi kantor KJRI. Untuk pengambilan paspor, disediakan loket lain dan tidak perlu mengambil nomor antrian. Saya memeriksa apakah data yang tercantum di paspor sudah benar, sebelum menandatanganinya. Asik! Paspor saya keluaran Melbourne..

Karena ada perubahan paspor, jangan lupa dilaporkan ke Department of Immigration and Citizenship. Bisa melalui online atau datang langsung ke kantornya. Saya memilih mendatangi langsung kantornya di Melbourne, beralamat di Casselden Place, 2 Lonsdale Street. Kita wajib mengisi formulir perubahan data dan melampirkan fotokopi halaman depan paspor yang berisi detail pribadi. Setelah diperiksa oleh petugas di counter, kita akan mendapatkan tanda terima sebagai bukti permohonan sedang diproses. Tanda terima ini wajib dibawa dan ditunjukkan kalau mau bepergian keluar Australia dalam waktu dekat. Proses peng-update-an data sekitar 5-10 hari kerja.


NOTES

Ukuran foto ini agak tricky karena beda-beda. 3×4 yang saya tulis di postingan, diambil dari persyaratan sesuai yang tercantum di KJRI Sydney dan Perth. Tapi di form paspor KJRI Melbourne, ukuran yang diminta adalah 3,5×4,5. Karena aneh ada “0,5” nya, saya mutusin buat tanya aja nanti sama petugas di tempat pas foto. Mereka pasti taulah yah..

Sampai di tempat pas foto, mbaknya bilang kalau ukuran foto paspor Indonesia adalah 5×5. Nah lowh, beda lagi! Seingat saya, ukuran foto paspor itu tidak square seperti format foto Instagram (dulu). Karena ragu, saya browsing mengenai ukurannya dan dapet 3×4. Saya kasih tau si mbak tapi dia tetap bilang hal yang sama. Terus dia kasih lihat daftar ukuran paspor negara-negara Asia, untuk Indonesia sama dengan Hongkong yaitu 5×5. Okelah saya mengalah, towh si mbak udah nunjukin buktinya. Lagipula dia juga tidak bakal ngerti kalo saya tunjukin kata-kata dalam bahasa Indonesia di website KJRI.
Waktu saya dateng ke KJRI di Melbourne, saya lihat ukuran foto 3,5×4,5 di formulir isian. Sempat kuatir karena salah ukuran foto, tapi untunglah petugasnya bilang tidak apa-apa karena bisa disesuaikan.

Jadi buat amannya, cek  & ricek dulu di website KJRI setempat. Kalau tidak ditulis ukuran foto berapa, ambil saja yang 5×5. Nanti petugas KJRI yang akan menyesuaikannya, entah jadi 3×4 atau 3,5×4,5.

Mengurus SKCK Online

SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) atau Police Record adalah surat yang menyatakan apakah seseorang memiliki catatan kejahatan atau tidak. SKCK dulunya dikenal dengan SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik). Umumnya SKCK diperlukan sebagai persyaratan untuk mendaftar CPNS, tapi terkadang diperlukan juga sebagai persyaratan visa untuk tinggal di negara tertentu dalam jangka panjang.

Tergantung tujuan penggunaannya, surat ini dapat diurus di kantor polisi mulai dari tingkat Polsek, Polres, Polda Metro Jaya atau Mabes Polri. Khusus untuk urusan luar negeri, SKCK yang diperlukan adalah yang dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya atau Mabes Polri. Saya sempat googling bagaimana cara mengurus SKCK dan menemukan bahwa sekarang bisa diurus online. Informasinya dapat dilihat di sini

Dokumen yang dipersyaratkan untuk permohonan SKCK secara online adalah sebagai berikut :

  1. Pemohon Warga Negara Indonesia (WNI):
  • Copy Scan KTP asli;
  • Copy Scan Kartu Keluarga (KK) asli;
  • Copy Scan Akte Kenal Lahir asli;
  • Copy Scan identitas lain bagi pemohon yang belum memenuhi syarat memperoleh KTP;
  • Copy Scan foto diri ukuran 4 x 6 berwarna latar belakang merah, berpakaian sopan, tampak muka. Bagi pemohon yang mengenakan jilbab harus tampak muka;
  • Copy Scan Paspor bagi WNI yang akan keluar negeri dalam rangka sekolah/kunjungan/penerbitan VISA;
  1. Pemohon Warga Negara Asing (WNA):
  • Copy Scan Surat permohonan (asli) sponsor, perusahaan, lembaga yang mempekerjakan, menggunakan atau yang bertanggung jawab terhadap WNA;
  • Copy Scan Paspor asli;
  • Copy Scan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) asli atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) asli;
  • Copy Scan foto diri ukuran 4 x 6 berwarna latar belakang kuning, berpakaian sopan, tampak muka. Bagi pemohon yang mengenakan jilbab harus tampak muka;
  • Copy Scan Surat Nikah asli dan KTP asli suami/istri bagi WNA yang mendapat sponsor dari WNI.

Pada saat pengambilan SKCK di loket pelayanan, pemohon WAJIB menunjukkan dokumen asli yang dipersyaratkan di atas kepada petugas loket guna keperluan verifikasi.

Ketentuan pengambilan SKCK :

  • Pemohon SKCK yang melakukan registrasi online sebelum pukul 08:00 waktu setempat dapat mengambil SKCK di loket pelayanan sampai dengan pukul 14:00 pada hari yang sama dengan membawa dan menunjukkan kode registrasi serta dokumen yang dipersyaratkan kepada petugas loket pelayanan;
  • Pemohon SKCK yang telah melakukan registrasi online diberikan kesempatan untuk mengambil SKCK paling lama 3 (tiga) hari kerja. Bila melebihi waktu tersebut, sistem akan otomatis menghapus data pemohon dan pemohon harus melakukan registrasi ulang.

Berikut pengalaman saya mengurus SKCK secara online.

12 Mei 2015

Saya melakukan pendaftaran melalui website yang diberikan dan memilih pengambilan di Mabes Polri. Setelah selesai mengisi formulir, saya mendapat kode registrasi. Kode registrasi ini harus langsung dicetak karena tidak ada pilihan untuk disimpan. Saya mengakalinya dengan menggunakan program Snipping Tool yang tersedia di Windows bagian accessories. Dengan Snipping Tool yang ber-icon gunting, kita tinggal meng-crop gambar yang diinginkan kemudian disimpan dalam bentuk image dengan format HTML, PNG, GIF atau JPEG. Saya mengirimkan ke e-mail agar dapat dicetak kemudian. Kode registrasi ini harus dicetak karena akan ditunjukkan pada saat verifikasi data dan pengambilan surat.

13 Mei 2015

Mabes Polri berlokasi di Jl. Trunojoyo No. 3, Jakarta Selatan. Saya berangkat jam 08.30 menggunakan Kopaja nomor 19 jurusan Tanah Abang – Blok M dan memberitahu kondektur bus kalau saya mau turun di Mabes. Transportasi lain yang dapat digunakan adalah bus Transjakarta jurusan Blok M (karena letaknya di antara Masjid Agung dan Blok M, bisa turun di salah satu halte ini kemudian berjalan kaki sekitar 5 menit) atau bus apapun jurusan Blok M.

Saya bertanya kepada salah satu petugas di pos satpam Mabes Polri mengenai loket untuk mengurus SKCK. Gedung yang dituju adalah gedung Pelayanan Masyarakat. Dari pintu masuk gedung, ruang yang dituju ada di sebelah kanan. Saya tiba jam 09.30 dan mengambil nomor antrian 3. Ada tiga loket di mana dua di antaranya ada petugas yang menjaga. Saya pikir ketiga loket tersebut bisa untuk mengurus SKCK tapi ternyata hanya loket tengah yang bisa dan ternyata (lagi) di loket yang tidak ada penjaganya. Ya sudah saya kembali duduk sambil melihat-lihat pengumuman yang ditempel di kaca loket, antara lain informasi pelayanan SKCK, biaya tarif SKCK dan persyaratan untuk SKCK.

Tepat jam 10.00 petugasnya datang dan memanggil nomor urut 3. Saya maju ke loket dan mengatakan mau mengambil SKCK yang sudah saya daftarkan secara online semalam. Dia mengecek komputernya dan mendapatkan data saya. Saya menyerahkan kode registrasi dan semua persyaratan.

Petugas (P) : Mbak sudah pernah mengambil sidik jari?

Saya (S) : Belum.

P : Berarti mbak harus mengambil sidik jari dulu di Gedung INAFIS. (Sambil menjelaskan di mana letak gedung itu)

S : Bisa selesai dalam satu hari, pak?

P : Bisa.

Saya beranjak pergi dan mencari gedung yang dimaksud. Dengan hasil bertanya kepada petugas di empat pos satpam berbeda, saya sampai di gedung INAFIS yang terletak di sebrang. Ruang pengambilan sidik jari terlihat sepi. Dari sekitar 15 meja dan kursi yang ada, hanya dua yang ditempati pada saat itu. Kemana pegawai yang lain? Saya tidak tahu. Mungkin ada benarnya, apa yang dikatakan orang-orang tentang pegawai negeri. Ironisnya, pegawai yang akan mengambil sidik jari saya baru datang dua menit kemudian setelah ditelepon oleh salah seorang dari dua pegawai yang ada. Saya mengisi kartu identitas diri yang diberikan, lalu ke-10 jari saya diberi tinta stempel untuk dicetak sidik jarinya. Kartu ini kemudian disimpan oleh pihak kepolisian sebagai arsip dan saya mendapat kartu kecil sebagai tanda terima bahwa sidik jari kita sudah pernah diambil. Saya memfotokopi kartu itu dan memberikannya kepada petugas di loket SKCK, sementara aslinya saya simpan untuk keperluan berikut. Setelah lengkap semua, dibilang kalau prosesnya maksimal dua jam.

Dua jam kemudian (jam 13.00) saya kembali ke ruangan. Tidak sampai lima menit, nama saya dipanggil. SKCK saya sudah jadi dan hanya perlu membayar Rp 10.000.


Info lain :

  • SKCK diterbitkan dalam 2 bahasa (bahasa Indonesia & bahasa Inggris) dan berlaku 6 bulan sejak tanggal dikeluarkan.
  • SKCK juga dapat diurus secara manual dengan mendaftar langsung di loket pelayanan SKCK yang berada di kantor Polsek/Polres/Polda/Markas Besar dengan membawa dokumen yang dipersyaratkan serta mengisi formulir yang telah disiapkan oleh petugas (terkadang diperlukan surat pengantar dr RT, RW & kelurahan).

© 2017 Me, Myself & Irene. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.