Me, Myself & Irene

work hard, travel even harder

Menu Close

Tag: Jakarta

Indahnya Jakarta ketika bebas macet

This slideshow requires JavaScript.

**Foto diambil pada tanggal 16 Juli 2015, H-1 Lebaran**

Berkunjung ke Jakarta Fair 2015

Jakarta ulang tahun yang keberapa yah?“, tanya kakak saya setelah kami pulang dari Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair, Minggu kemarin. Saya lagi malas menghitung, jadi memberi jawaban yang tidak membantu “Ya kamu hitung saja, 2015 – 1527” 😀

Terakhir kali saya pergi ke Jakarta Fair pada tahun 2007 bersama teman-teman kuliah. Pemerintah menyediakan shuttle bus dari Monas menuju JIEXPO Kemayoran. Lokasi PRJ memang tidak dilalui oleh angkutan umum sejenis bus atau angkot, yang ada hanya taksi dan itupun sopirnya minta borongan alias tidak pakai argo. “Waduh, bisa pergi tapi tidak bisa pulang“, pikir saya. Itulah alasan mengapa tahun-tahun berikutnya saya absen mengunjungi Jakarta Fair, yang kemudian menjadi alasan yang sama ketika ibu beserta kedua kakak saya mengajak ke sana. Mereka berhasil meyakinkan saya bahwa kami tidak akan mengalami kesulitan mencari taksi ketika pulang dan sudah membuktikannya tahun lalu. Okelah kalau begitu, kami berangkat pukul 2 siang dan tiba 45 menit kemudian.


Informasi penting seputar Jakarta Fair 2015

Waktu penyelenggaraan : 29 Mei – 5 Juli 2015.

Waktu operasi : Senin – Jumat pukul 15.30 – 22.00 dan Sabtu – Minggu pukul 10.00 – 23.00.

Harga tiket masuk : Rp 20.000 (Senin), Rp 25.000 (Selasa – Kamis), Rp 30.000 (Jumat – Minggu & hari libur).


Tiket masuk dapat dibeli di loket yang tersedia di setiap pintu atau zona. Kita akan mendapat sebuah kartu dan selembar kupon berisi potongan harga dari beberapa produk yang ada. Kartu ini nantinya akan dimasukkan ke dalam mesin seperti kita akan naik Commuter Line.

Gedung yang pertama kami masuki adalah JIEXPO, di mana Department Store Matahari dan Mitra Adi Perkasa (MAP) berada. Tujuan saya adalah menyaksikan Festival of Light atau festival lampion, seperti yang saya lihat di koran. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh petugas, festival itu terletak di dekat danau. Karena posisinya yang berlawanan arah dengan gedung di mana saya sedang berada, maka saya harus berjalan melewati area open space booth. Berikut adalah laporan pandangan mata yang berhasil saya tangkap..

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya sampai juga di depan danau, di mana Festival of Light berada. Area festival lampion ditutupi dengan pagar, pertanda kami harus membayar lagi sebesar Rp 20.000/orang untuk dewasa. Saya batalkan saja karena tampaknya tidak sebagus festival lampion yang pernah saya datangi sebelumnya di Gelora Bung Karno Senayan dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saya lebih tertarik mencoba mengendarai mobil Volkswagen (VW) neon yang lucu ini! Untuk dapat mengendarainya, kami membayar Rp 30.000 untuk dua putaran dengan penumpang maksimal empat orang. Saya diberi tugas untuk memegang kemudi, sementara kami semua mengayuh pedalnya. Loh, jadi ini sepeda dalam bentuk mobil atau mobil dalam bentuk sepeda yah?

Beruntung kami membatalkan niat untuk masuk ke dalam festival lampion, karena ternyata area putaran ‘mobil’ mengelilingi lokasinya jadi kami bisa melihat ke dalam. Kami putuskan untuk mengambil foto pada putaran pertama kemudian menikmati perjalanan pada putaran kedua.

Saya sadari bahwa menyetir itu tidak mudah dan memerlukan konsentrasi. Hal ini penting untuk diketahui karena saya berencana mengambil kursus mengemudi. Konsentrasi penuh memegang kemudi agar ‘mobil’ tetap berada di jalurnya, telah membuat saya berkeringat dan merasa lapar. Kunjungan ke PRJ terasa kurang lengkap jika tidak menikmati makanan khas Jakarta alias kerak telor. Kami memilih tukang kerak telor terdekat dan segera memesan kerak telor bebek. Kerak telor bebek dijual seharga Rp 25.000/porsi, sedangkan kerak telor ayam Rp 20.000/porsi. Ratusan penjual kerak telor yang berjualan di PRJ berasal dari wilayah Duren Tiga, Jakarta Selatan. Jika tidak ada acara Jakarta Fair, sepasang suami istri ini berjualan kerak telor di Situ Babakan dan Ragunan.

Selesai makan, kami menuju booth Dilmah untuk menukarkan e-voucher dengan segelas Ice Tea gratis. Caranya bisa dilihat di bagian Tips 😀

Kami melanjutkan perjalanan dengan memasuki beberapa hall berisi produk non makanan/minuman. Tujuan utamanya sih buat menghilangkan kepanasan yang dirasakan, sambil cuci mata. Hihihi..

Jam 9 malam kami memutuskan untuk pulang karena kaki terasa pegal. Ya iyalah.. Datang dari jam 3 sore, berarti sudah enam jam kami berjalan. Maklum, semua anggota keluarga saya ini tukang jalan. Jadi “kalau bulu kakinya belum rontok, belum mau pulang”, demikian kata sindiran mama saya. Haha, jangan dicontoh yah..


Oleh-oleh

 


Tips

  • Ambil peta di bagian Informasi agar mendapat gambaran apa yang bisa dilihat di dalam area Jakarta Fair.
  • Download aplikasi Jakarta Fair Kemayoran di smartphone. Ada banyak e-voucher yang diberikan, termasuk free Ice Tea di booth Dilmah.
  • Alternatif transportasi menuju PRJ Kemayoran adalah free shuttle bus dari dan ke IRTI Monas, Halte Transjakarta Landas Pacu Timur / Rusunawa Kemayoran, Mangga Dua Square dan Stasiun Kemayoran.
  • Informasi selengkapnya dapat dilihat di website Jakarta Fair

Dirgahayu Kota Jakarta ke-488

Sore ini saya pergi ke Plaza Senayan bersama kakak saya dengan menggunakan taksi. Lalu lintas dalam kondisi ramai lancar mulai dari Monas sampai Bundaran HI. Selepas itu, jalanan agak kosong dan terdengar suara sirene. Sopir taksi mengatakan “Biasa sih ada yang mau lewat, entah Jokowi atau JK”. Begitu sampai di Tosari, saya menengok ke belakang dan betul saja. Terlihat ada dua buah sepeda motor dan sebuah mobil sebagai vooridjer, diikuti mobil Mercedes Benz berwarna hitam dengan plat “RI 1”. Saya langsung histeris “Wah, Jokowi yang lewat!!”. Sopir taksi memperlambat laju kendaraannya dan mempersilahkan iringan mobil untuk lewat. Di bangku penumpang sebelah kiri belakang, tampak seorang pria berpakaian batik sedang menatap ke jendela. Ya, itu adalah Pak Joko Widodo, yang mungkin habis menghadiri acara di Istana Negara. Saya sering melihat beliau di berita televisi, namun belum pernah melihat secara langsung. Tidak seperti mobil Presiden sebelumnya, Pak Jokowi tidak mau kendaraan dinasnya dilapisi kaca film yang terlalu tebal atau gelap. Pengawalan pun tidak sebanyak dan seketat Presiden terdahulu yang masa jabatannya paling lama. Saya beranggapan bahwa beliau merasa dirinya adalah milik rakyat sehingga membiarkan mereka melihatnya.

Memasuki area Dukuh Atas, taksi kami dipepet oleh sebuah motor vooridjer yang pengendaranya tampak marah lalu memelototi sopir taksi. Rupanya iring-iringan masih berlanjut dan berikutnya adalah mobil dengan plat “RI 2” sebagai tanda Bapak Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla sedang lewat. Sopir taksi pun bercerita “Kalau waktu zaman (Alm) Soeharto, saya sudah digebuk sama pengawalnya, karena tidak mau menepi. Bisa saja tadi saya digebuk juga, tapi Jokowi tidak mau pengawalnya terlalu galak”. Hal ini membuat saya semakin mengagumi pria yang kemarin bertambah usia menjadi 54 tahun.

Senang rasanya bisa melihat Presiden RI ke-7 yang low profile, di tengah kemacetan sore hari menjelang waktu berbuka puasa, pada hari ulang tahun kota Jakarta 🙂

 

*Note : Apa yang saya tuliskan ini adalah murni pendapat pribadi saya dan mungkin akan berbeda dengan orang lain*


Vooridjer : pengawalan

© 2017 Me, Myself & Irene. All rights reserved.

Theme by Anders Norén.